Pengertian
LSM/NGO
LSM Lembaga Swadaya Masyarakat
adalah organisasi
non-pemerintah yang independen dan mandiri, dan karena itu bukan merupakan
bagian atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga negara dan pemerintahan. (Kode
Etik LSM Bab 1 No. 1). Lembaga swadaya masyarakat adalah organisasi yang
tumbuh secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri, ditengah
masyarakat, dan berminat serta bergerak dalam bidang lingkungan hidup. (UU
No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 Ayat 12).
LSM juga sering dikenal dengan NGO (Non-governmental
organization). Sesuai dengan namanya, NGO pada dasarnya memiliki pengertian
singkat sebagai organisasi yang tidak berada secara langsung dalam struktur
pemerintahan ataupun tidak ada koordinasi langsung dari pemerintah dan
merupakan badan yang bersifat mandiri. LSM dapat berdiri jika terdapat kesamaan
visi dan misi sekelompok orang yang membentuk organisasi dengan kebebasan
segala perbedaan yang terdapat di masyarakat seperti agama, suku, ras,
golongan, dan gender tapi tetap berasaskan Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan
Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum
organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan.
Peranan
LSM/NGO
Peranan NGO penting untuk membangun
suatu masyarakat dan bangsa. Ini disebabkan karena banyak pembiayaan dari
perorangan, institusi dan pemerintah untuk masyarakat disalurkan melalui NGO.
Sejak tahun 1970-an, NGO telah bertambah banyak dari sebelumnya mencoba untuk
mengisi ruang yang tidak akan atau tidak dapat diisi oleh pemerintah. Berikut
peranan LSM/NGO :
1. Pengembangan dan Pembangunan
Infrastruktur
Membangun perumahan, menyediakan
infrastruktur seperti sumur atau toilet umum, penampungan limbah padat dan
usaha berbasis masyarakat lain.
2. Mendukung inovasi, ujicoba dan
proyek percontohan
NGO memiliki kelebihan dalam
perancangan dan pelaksanaan proyek yang inovatif dan secara khusus menyebutkan
jangka waktu mereka akan mendukung proyek tersebut. NGO dapat juga mengerjakan
percontohan untuk proyek besar pemerintah karena adanya kemampuan bertindak
yang lebih cepat dibandingkan dengan pemerintah dengan birokrasinya yang rumit.
3. Memfasilitasi komunikasi
NGO dapat memfasilitasi komunikasi
ke atas, dari masyarakat kepada pemerintah, dan ke bawah, dari pemerintah
kepada masyarakat. Komunikasi ke atas mencakup pemberian informasi kepada
pemerintah tentang apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh
masyarakat, sedangkan komunikasi ke bawah mencakup pemberian informasi kepada
masyarakat tentang apa yang direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah. NGO
juga dapat memberikan informasi secara horizontal dan membentuk jejaring
(networking) dengan organisasi lain yang melakukan pekerjaan yang sama.
4. Bantuan teknis dan pelatihan
Institusi pelatihan dan NGO dapat
merancang dan memberikan suatu pelatihan dan bantuan teknis untuk organisasi
berbasis masyarakat dan pemerintah.
5. Penelitian, Monitoring dan
Evaluasi
Monitoring dan evaluasi yang efektif terhadap
sifat partisipatif suatu proyek akan memberikan manfaat yang baik bagi
masyarakat dan staf proyek itu sendiri.
6. Advokasi untuk dan dengan masyarakat
miskin
NGO menjadi jurubicara dan
perwakilan orang miskin dan mencoba untuk mempengaruhi kebijakan dan program
pemerintah. Ini dapat dilakukan melalui berbagai cara mulai dari unjuk rasa,
proyek percontohan, keikutsertaan dalam forum publik untuk memformulasi
kebijakan dan rencana pemerintah, hingga mengumumkan hasil penelitian dan studi
kasus terhadap orang miskin. Jadi, NGO memainkan peran mulai dari advokasi
kepada orang miskin hingga implementasi program pemerintah; dari penghasut
(pembuat opini) dan pengkritik hingga rekan kerja dan penasehat; dari sponsor
proyek percontohan hingga mediator.
Beberapa
bidang yang digeluti oleh NGO, antara lain :
a. Pendidikan masyarakat dan
pengembangan kesehatan
Pendidikan seks dan kontrasepsi, kesehatan umum, pembuangan
limbah/ sampah, penggunaan air, vaksinasi, pelayanan konsultasi remaja.
b. Penanganan kesehatan khusus
HIV/AIDS, Hepatitis B, pemulihan kecanduan obat.
c. Masalah sosial masyarakat
Kenakalan (kejahatan) remaja, remaja yang meninggalkan
rumah, anak jalanan, prostitusi.
d. Lingkungan hidup
Pendidikan konsumsi energi dan air, pelestarian gunung dan
hutan
e. Ekonomi
Pinjaman dan usaha mikro, pelatihan keahlian (komputer,
teknisi, katering, menjahit, dll), promosi dan distribusi produk (bazaar, dll),
pembentukan koperasi, konsultasi keuangan, bantuan mencari kerja dan
pengembangan karir.
f. Pengembangan
Pembangunan sekolah, pembangunan infrastruktur, pembangunan
dan operasional pusat budaya, bantuan ahli untuk pertanian dan kelautan.
g. Isu perempuan
Hak anak dan perempuan, pusat bantuan untuk perempuan yang
mengalami kekerasan, terapi kelompok terhadap perempuan yang mengalami
pelecehan seksual, hotline counseling (konseling via telepon khusus untuk
perempuan), bantuan hukum untuk perempuan, mendorong minat baca dan tulis.
Teori-teori
Mengenai LSM/NGO
1. Teori evolusi
Teori ini awalnya dikembangkan oleh
Frederick Hegel kemudian oleh Auguste Comte, yang menjelaskan bahwa perubahan
merupakan hal yang natural, kontinyu, keharusan dan berjalan melalui sebab yang
sama. Teori ini sangat berpengaruh terhadap hampir semua teori perubahan social
dan pembangunan setelahnya. Teori ini menganggap masyarakat bergerak dari
masyarakat miskin non-industri sebagai primitive dan akan berevolusi ke
masyarakat industri yang lebih komplek dan berbudaya. Teori ini melihat tradisi
sebagai suatu masalah.
2. Teori structural – functionalism
Teori ini dikembangkan oleh Robert
Merton dan Talcott Persons, terori ini memandang masyarakat sebagai suatu
system yang terdiri atas bagian yang saling berkaitan (agama, pendidikan,
struktur politik, keluarga dan sebagainya). Masing-masing bagian secara
terus-menerus mencari keseimbangan dan harmoni antara mereka. Interrelasi
tersebut dianggap bisa terjadi karena adanya consensus, dan suatu pola yang non
normative dianggap akan melahirkan gejolak. Jika hal ini terjadi maka
masing-masing pihak akan cepat menyesuaikan diri untuk mencapai keseimbangan
lagi. Teori ini menganggap perubahan masyarakat tidak ditetapkan berapa lama
evolusinya. Dan konflik dalam suatu masyarakat dilihat sebagai tidak
berfungsinya integrasi social dan keseimbangan. Oleh karena itu harmoni dan
integrasi dipandang sebagai fungsional, bernilai tinggi dan harus ditegakkan,
sedangkan konflik harus dihindarkan.
3. Teori Modernisasi
Menurut Hutington (1976) proses
modernisasi bersifat revolusioner (perubahan cepat dari tradisi ke modern),
komplek (melalui banyak cara), sistematik, global (akan mempengaruhi semua
manusia), bertahap (melalui langkah-langkah), homoginisasi dan progressive.
Teori ini dipergunakan dikalangan interdisiplin, seperti: sossilogi, psikologi,
ilmu politik, ekonomi, antropologi dan bahkan agama. Ukuran modernitas bagi
teori ini adalah suatu masyarakat yang menurut mereka modern adalah masyarakat
barat.
4. Teori Human Capital
Teori ini dikembangkan oleh Theodore
Shultz (1961) yang menekankan pada kemampuan productive dari sumberdaya manusia
sebagai modal investasi bagi proses pembangunan. Teori ini menganggap
keterbelakangan masyarakat adalah faktor internal negara atau masyarakat itu
sendiri. Upaya untuk meningkatkan investasi pada human capital mereka lihat
sebagai hasil dari cepatnya pertumbuhan ekonomi.
5. Teori Marxists
Teori evolusi dan structural
fungsionalisme diatas menjelaskan bahwa perubahan terjadi secara pelahan dan
damai serta mengabaikan konflik sebagai suatu dimensi perubahan social.
Sedangkan menurut Marx, masyarakat terpolarisasi dalam dua kelas, yang selalu
konflik, yakni yang mengekploitasi dan diekploitasi. Marx melihat masyarakat
berkembang dari masyarakat komunis primitive, kemudian perbudakan, feudal,
kapitalis, sosialis dan akhirnya menuju komunisme, perubahan tersebut melalui
suatu konflik. Menurut Marx, konflik terletak antara kelas berjuis dan
ploretar. Dalam system kapitalis, proses ekploitasi Kepada kelas proletar
(buruh yang menghasilkan produksi) oleh kelas borjuis (majikan tidak bekerja
tetapi menguasai alat produksi) diselenggarakan oleh kelas menengah. Hasil
ekploitasi itu selanjutnya didistribusikan pada berbagai pihak dalam bentuk
pajak, bunga bank, sewa tanah, riset dll. Sebagai imbalan, lembaga-lembaga yang
didalamnya terdapat kelas menengah mendukung kelas borjuis dengan memberi
legitimasi terhadap ekploitasi tersebut dalam bentuk norma, penekanan maupun
penindasan. Jika kesadaran buruh meningkat konflik kelas tak dapat dikendalikan
maka perubahan pun terjadi.
6. Teori Dependency
Teori ini berlawanan dengan teori
evolusi dan modernisasi, teori dependency menekankan hubungan baik dengan
masyarakat sendiri, seperti masalah struktur social, cultural, ekonomi dan
politik. Asumsi dasar dari teori ini adalah keterbelakangan dan pembangunan
adalah konsep yang saling berkaitan dengan berkembangnya masyarakat diluarnya.
Kata ketergantungan dipakai untuk memberi tekanan bahwa hubungan kemajuan di
tingkat pusat dan keterbelakangan di tingkat daerah atau pelosok desa
adalah akibat dari proses sejarah dan disengaja.
Kerangka pemikiran ini berakar pada
teori Marx tentang ekploitasi, artinya keterbelakangan di negara Dunia ketiga
adalah akibat dari kapitalisme di Barat. Pemikiran Lenin tentang imperialisme
juga mewarnai teori ini, dimana transfer sumber dapat terjadi dengan berbagai
cara: baik melalui hubungan kolonialisme maupun operasi perusahaan multi
nasional. Artinya menjajah negara lain tidak lagi seperti zaman kolonialisme
dulu, tetapi cukup membuat para pemimpin negara miskin / Dunia ketiga memiliki
sikap, nilai dan interest pada negara kaya.
7. Teori Liberasi
Dekat dengan teori Marxist dan
Dependency adalah teori liberasi. Teori ini menolak Marx dan Dependency tetapi
memberi alternatif fokus terhadap keterbelakangan dan bagaimana mengatasinya.
Teori ini menagaskan bahwa tidak ada harapan bagi orang miskin tanpa adanya
perubahan mendasar dalam struktur masyarakat dan struktur yang lebih luas dalam
sosio-ekonomi, politik dan budaya. Teori ini lebih menekankan pada pendekatan
humanitik dari pada pendekatan structural, dengan asumsi masyarakat terbelakang
ditindas oleh pemegang kekuasaan dalam masyarakat mereka sendiri. Paulo Freire
(1972) sebagai salah satu tokoh dari teori ini menfokuskan perlunya pendidikan
dalam liberalisasi dan pembangunan. Dalam pembangunan menurut Paulo Freire
lebih menekankan pada keadilan ketimbang soal harta kekayaan.
Pengelompokan
LSM/NGO
World
Bank membagi NGO ke dalam dua kelompok,
yaitu :
1. NGO Operasional
Tujuan utamanya adalah perancangan
dan implementasi proyek pengembangan. Kelompok ini menggerakkan sumber daya
dalam bentuk keuangan, material atau tenaga relawan, untuk menjalankan proyek
dan program mereka. Proses ini umumnya membutuhkan organisasi yang kompleks.
NGO operasional ini masih dapat dibagi atas 3 kelompok besar :
a. Organisasi berbasis masyarakat yang
melayani suatu populasi khusus dalam suatu daerah geografis yang sempit
b. Organisasi Nasional yang beroperasi
dalam sebuah negara yang sedang berkembang
c. Organisasi Internasional yang pada
dasarnya berkantor pusat di negara maju dan menjalankan operasi di lebih dari
satu negara yang sedang berkembang.
2. NGO Advokasi
Tujuan utamanya adalah
mempertahankaan atau memelihara suatu isu khusus dan bekerja untuk mempengaruhi
kebijakan dan tindakan pemerintah untuk atau atas isu itu. Organisasi ini pada
dasarnya berusaha untuk meningkatkan kesadaran (awareness) dan
pengetahuan dengan melakukan lobi, kegiatan pers dan kegiatan-kegiatan aktivis.
NGO ini pada dasarnya bekerja melalui advokasi atau kampanye atas suatu isu dan
tidak mengimplementasikan program. Kelompok ini menjalankan fungsi yang hampir
sama dengan kelompok operasional, namun dengan tingkatan dan komposisi yang
berbeda. Pencarian dana masih perlu namun dengan ukuran yang lebih kecil. NGO
dapat pula dikelompokkan berdasarkan orientasi dan tingkat operasi :
a. Berdasarkan Orientasi
1) Orientasi Amal (Charitable)
sering melibatkan kerja pola top-down dengan sedikit partisipasi
penerima manfaat. Kegiatan NGO diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan makanan pada
orang miskin, pakaian dan obat-obatan, perumahan, sekolah, dll. NGO ini dapat
juga melakukan aktifitas bantuan pada bencana alam atau bencana akibat
perbuatan manusia.
2) Orientasi pelayanan mencakup NGO
yang aktifitasnya berupa penyediaan jasa pelayanan kesehatan, perencanaan
keluarga atau pelayanan pendidikan yang programnya dirancang oleh NGO dan
masyarakat diharapkan berpartisipasi dalam implementasinya dan dalam penerimaan
layanannya.
3) Orientasi partisipasi dicirikan
dengan proyek kelola sendiri (self-help projects) dimana penduduk
setempat dilibatkan dalam implementasi proyek dengan cara memberi bantuan uang
tunai, peralatan, lahan, bahan-bahan, tenaga kerja, dll. Dalam proyek
pengembangan masyarakat yang klasik, partisipasi dimulai dengan identifikasi
kebutuhan dan dilanjutkan kepada tahap perencanaan dan implementasi.
4) Orientasi pemberdayaan tujuannya
adalah membantu orang miskin untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik
terhadap faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan
mereka, dan untuk meningkatkan kesadaran mereka akan kekuatan potensial yang
mereka miliki untuk mengendalikan kehidupan mereka. Kadang-kadang, kelompok ini
berkembang secara spontan akibat adanya suatu masalah atau isu, dan NGO
memainkan peranan fasilitasi dalam perkembangan mereka.
b. Berdasarkan tingkatan operasi
1) Organisasi berbasis masyarakat
muncul dari inisiatif orang-orang itu sendiri. Ini dapat mencakup klub
olahraga, organisasi perempuan, organisasi jiran, organisasi agama atau
pendidikan. Ada banyak variasi dari jenis ini. Sebagian didukung oleh NGO, atau
badan bilateral atau internasional, dan yang lainnya independen dari bantuan
pihak luar. Sebagian bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat miskin
kota atau membantu mereka memahami hak-hak mereka dalam memperoleh akses kepada
layanan yag dibutuhkan sementara yang lain terlibat dalam penyediaan layanan
itu sendiri.
2) Organisasi perkotaan (Citywide
Organizations) mencakup organisasi seperti Rotary atau Lion’s
Club, kamar dagang dan industri, koalisi bisnis, kelompok etnis dan
pendidikan dan asosiasi organisasi masyarakat. Sebagian berdiri untuk tujuan
tertentu namun menjadi terlibat dalam membantu orang miskin sebagai satu dari
banyak kegiatannya, sementara yang lain dibentuk untuk tujuan khusus yaitu
membantu orang miskin.
3) NGO nasional mencakup organisasi
seperti Palang Merah (Red Cross), organisasi profesi, dll. Sebagian di
antaranya memiliki cabang di suatu negara dan membantu NGO setempat.
4) NGO internasional mulai dari badan
sekuler seperti organisasi Save the Children, OXFAM, CARE, Ford and
Rockefeller Foundations hingga kelompok yang didasarkan oleh agama.
Kegiatan mereka bervariasi dari pencariaan dana hingga implementasi proyek.
Kekuatan
dan Kelemahan LSM/NGO
Kekuatan
dari NGO adalah sebagai berikut :
a. Jaringan grassroots yang
kuat.
b. Kemampuan melakukan inovasi dan
beradaptasi, fleksibel dalam mengadaptasi situasi setempat dan merespon
terhadap kebutuhan setempat dan oleh karenanya mampu mengembangkan
proyek-proyek yang terintegarasi dan juga proyek-proyek sektoral.
c. Kemampuan mengidentifikasi
orang-orang yang paling membutuhkan dan menciptakan bantuan yang sesuai dengan
kebutuhan.
d. Metodologi dan tools yang bersifat
partisipatif
e. Komitmen jangka panjang dan
penekanan pada kesinambungan
f. Efektifitas biaya.
g. Kemampuan berkomunikasi kepada semua
tingkatan, mulai dari tetangga terdekat hingga tingkat tertinggi pada
pemerintahan.
h. Kemampuan merekrut para staf yang
ahli dan bermotivasi tinggi.
Kelemahan
NGO :
a. Keterbatasan keuangan (tingkat
keberlanjutannya rendah)
b. Keterbatasan kapasitas
institusi/kelembagaan
c. Tertutupnya/kurangnya komunikasi
intern organisasi dan/atau koordinasi
d. Intervensi dalam skala yang kecil
e. Kurangnya pemahaman akan konteks
sosial ekonomi yang lebih luas
f. Sikap terpola (paternalistic)
membatasi tingkat keterlibatan partisipatif dalam desain program/proyek.
g. Terbatasnya cara pendekatan atas
suatu masalah atau area.
h. “Kepemilikan teritorial” dari suatu
daerah atau proyek mengurangi kerjasama antara badan-badan, terlihat seperti
ancaman atau adanya persaingan.
Referensi :
Arisandi. ( ). Pengertian LSM. [Online].
Tersedia : http://arisandi.com/pengertian-lsm/
Mahottama,
Shaka. ( ).Selembar
Catatan Mengenai NGO. [Online].
Tersedia : http://bulletinbiru.blogdrive.com/archive/8.html
Wikipedia. ( ). Lembaga Swadaya
Masyarakat. [Online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Swadaya_Masyarakat
. (2009). Peranan LSM dalam
Perubahan Sosial Di Indonesia. [Online]. Tersedia : http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/2009/12/27/peranan-lsm-dalam-perubahan-sosial-di-indonesia/
Diposkan oleh Sulastri di 4/11/2012 11:58:00 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar